Pages

Kamis, 04 Desember 2014

Perih, Kau Temanku

Tak pernah aku bermimpi, tak pernah aku menginginkan rasa ngilu menjadi temansetia, perih yang selalu menyapa di kosongnya waktu. Kembali ku berlindung dibalik tirai keramaian, membuang hal yang tak diharap.
Apa daya, pertahanan semakin goyah saat menapaki jejak yang kau toreh, selalu indah dan mencipta rasa ingin lebih. Aku takabur, selalu merasa memiliki kisah paling sempurna. Aku takabur, selalu merasa kamulah seutuhnya punyaku.
Sampai di detik itu, Tuhan menunjukkan kekuasaan-Nya.
Detik yang berkurang tak pernah lekat dihitung, ingin segera kucapai tempatnya penghabisan waktu. Tak perlu lagi ku bersembunyi dan merasa semua akan sama, sungguh sejak kepergianmu, bernafaspun menjadi sesak saat menyadari kau benar tak ada.
Tepat hari ini, aku berharap hujan enggan pergi, gelap tak berhenti, memanggil seluruh perih untuk mengoyak isi hati. Hanya hari ini, aku izinkan mereka menguras habis semua bendungan pertahanan yangtercipta. Hanya hari ini.
Selamat ulang tahun untukku, semakin sedikit waktu tersisa, semakin cepat pertemuan kita kembali disana. Sambutlah aku ketika tiba saatnya.




Gina Rizki Septiani